Izinkan Raisya Sujud di Baiturrahman


Oleh : Eka Rinika
“Maka kesabaran yang baik itulah kesabaran-Ku. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa-apa yang kamu ceritakan”
(QS. YUSUF : 18)

Pagi ini cerah sekali tak seperti biasanya, burung-burung berkicau ria penuh semangat. Senyuman seolah mengahantarkan hidup baru pada lembaran yang terukir dengan kisah yang dulunya terangkai pilu dalam bingkai kaca yang membutuhkan lukisan yang indah. Tak semua torehan masa memberikan apa yang kita mau, apa yang kita inginkan, dan apa yang kita harapkan. Tetapi, apa yang kita butuhkan yang kadang menjadi kenyataan. Itulah pembagian nasib yang sudah terpahat rapi di lorong-lorong sang waktu, detik demi detik yang akan terus menjawabnya. Lalu menjadikannya sebuah kehidupan yang penuh warna-warni takkan mudah di terka. Hanya manusia yang sabarlah menjadi pemilik jiwa yang berhasil di hari pembalasan.
“Ah, tak usah aku mengingatnya lagi, yang terpenting aku selalu bersyukur atas kehidupan yang Allah berikan untukku di setiap saat yang berharga” Ucap Raisya pada makam Maryam di pagi cerah itu.
“Semoga kau mendapat tempat terindah di sisi Allah adikku sayang, aku akan melanjutkan kisah ini, walau tanpamu. Tapi, aku yakin kau selalu setia menemaniku dalam doamu yang dekat dengan Allah” Tambah Raisya seraya menaburi bunga-bunga di tempat tinggal terakhir adikknya di dalam dunia.

Setelah kepergian Maryam adik Raisya Putria yang kini masih duduk di bangku kuliah semester 2, membuat gadis yang berumur belasan ini semakin mengenal arti hidup. Membaca kembali lembaran masa lalu hanya akan memupuskan masa depan, dan menyia-nyiakan waktu yang sangat bernilai. Namun, hari-harinya bersama Maryam akan ia jadikan sebagai kenangan terindah yang telah terangkai rapi dalam hati Raisya.
Raisya ingin selalu menghapus air mata di pipinya, ia tak mau lagi mengingatnya. Karena itu dapat menimbulkan kerinduan yang teramat dalam baginya. Raisya begitu di sapa hangat sahabat-sahabatnya adalah gadis periang yang sulit marah dan penyabar. Ia selalu siap membantu jika ada sahabatnya yang membutuhkan pertolongannya. Namun, pertolongan untuk adik semata wayangnya tak pernah menjadi nyata. Sebelum Maryam menghembuskan nafas terakhir, ia menitip rangkaian kalimat penuh makna yang takkan mengendurkan semangat juang bagi kelangsungan hidup kakak tercintanya.

“Aku ingin kau mampu memperjuangkan niatmu untuk segera pergi ke Baiturrahman, walaupun keinginan ini mungkin hanya akan berlaku untukmu saja, karena aku tak sanggup lagi melembari perjalanan kita berdua. Tubuhku terasa sakit sekali, jantungku seperti tertusuk bagian yang tajam” Ungkap Maryam pada Raisya di menit-menit terakhirnya.

“Aku ingin pergi bersamamu Maryam, kau sudah berjanji untuk Shalat bersama denganku di Baiturrahman. Kau tidak boleh mengingkari janjimu” Sahut Raisya seraya menitihkan air mata kepedihan.
“Aku tidak akan mengingkari janjiku, kita bisa bertemu di Baiturrahman dalam Syurga Allah yang indah. Kau harus percaya itu, tidak ada yang abadi di dunia ini, segalanya milik Allah, dan kepada Allah lah kita semua kembali” Ujar Maryam sambil menyembunyikan buratan kelu, ia tak mampu menutupi kesedihan saat itu.
“Aku hanya manusia biasa yang mampu berharap dan berdoa yang terbaik untukmu Maryam adikku sayang” Jawab Raisya seraya mengahapus air matanya.
“Lailahaillallah Muhammadarasullah” Ucap Maryam pelan, lalu menutup matanya untuk selama-lamanya dengan wajah berseri-seri.
             
Pertemuan itu berakhir di sudut kampung tempat dua gadis itu tinggal. Sore yang menghantarkan duka bagi pelaku takdir mengartikan betapa kejamnya permainan hidup di dunia. Matahari meredup sepintas mata melihat dua saudara yang saling berpelukan di atas deburan tanah. Raisya tak ingin menangis lagi, ia ingin mengikhlaskan kepergian adiknya dengan damai. Maryam pergi dengan lumuran darah yang menggumpal penuh di tubuh dan wajahnya. Saat itu Maryam di tabrak oleh seorang pemuda tak di kenal. Pemuda itu mengendarai sepeda motornya sangat kencang. Ia langsung kabur usai menabrak Maryam yang sedang menjinjing gorengan. Maryam tergeletak di tepi jalan dekat rumahnya.

Maryam sempat meminta pertolongan pada warga sekitar, tapi sayangnya sore itu jalanan sangat sepi. Bahkan, Raisya pun tak kunjung tampak. Baisanya Raisya sudah pulang, tetapi entah apa yang menghambatnya sehingga pulang sangat sore sekali. Setelah setengah jam pingsan barulah Raisya datang sambil menjinjing tasnya. Raisya baru pulang kuliah. Begitulah kisah itu terjadi sangat singkat dan tak ada yang tahu, apa dan siapa pelaku yang telah merenggut nyawa Maryam adik kesayangan Raisya.
***
“Bersabar itu indah, bersabar merupakan ciri orang-orang yang mengahadapi berbagai kesulitan dengan lapang dada. Karena itu jika kamu tidak mampu bersabar, maka apa yang bisa kamu perbuat?” Urai Ummi Magfirah pada Raisya yang sedang merenungi kisah selanjutnya.
“Tapi apa balasan untuk orang-orang yang bersabar Ummi? Apakah aku harus menunggu terlalu lama, kapan keinginanku tercapai? aku sangat ingin Ummi, pergi ke Baiturrahman dan shalat disana!” Sahut Raisya menyelidiki makna dari kata-kata Ummi Magfirah.
“Balasan untuk orang-orang yang bersabar adalah Syurga, Syurga lebih indah dari semua tempat  apapun yang ada di bumi ini. Kau harus yakin suatu saat Allah akan menjawab doamu” Ummi Magfirah menutup pembicaraan mereka dengan kata-kata yang penuh keyakinan.
               
Ummi Magfirah adalah kakak dari Ibu kedua putri yang kini berbeda tempat tinggal itu, mereka adalah Raisya Putria dan Maryam. Kedua orangtua Raisya telah juga mendahuluinya. Jauh sebelum Maryam meninggal dunia.
Keesokan harinya Raisya kuliah seperti biasa. Hari-hari ia lalui dengan keteguhan hati. Tak pernah lagi ia merasa kekurangan cinta sosok sang adik. Di kampus ia mempunyai banyak sahabat dan banyak pula orang-orang yang sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Raisya merasa hidupnya begitu lengkap setelah bergabung dengan sebuah organisasi di kampusnya. Organisasi itu bernama LPM SA (Lembaga Pers Mahasiswa Suara Almuslim). Lembaga ini sering melakukan aksi-aksi demonstrasi dan banyak kegiatan lainnya, ajang ini di lakukan demi membela hak-hak rakyat yang tertindas.
***
               
Suatu hari yang indah Pembina sekaligus pendiri Unit Kegiatan Mahasiswa ini  mengajak kaderisasi LPM SA terjun ke Banda Aceh tujuannya melakukan aksi demo. Semua setuju. Ketika Raisya mendengar berita ini ia sangat senang sekali, langkah tersebut bisa mewujudkan keinginannya untuk shalat di Mesjid Baiturrahman. Raisya sangat berharap bisa pergi mengelilingi kota Banda Aceh, belum lengkap rasanya menjadi orang Aceh tulen bila belum pergi ke Ibu kota provinsi tercinta. Namun, keinginannya yang pertama adalah Sujud di Baiturrahman dengan irama-irama bacaan shalat yang merdu. Ia berharap sekali tujuan memberantas pelaku korupsi melalui ajang demo dapat juga memenuhi hasratnya.
               
Dua hari telah berlalu begitu cepat, rangkaian warna-warni treatikal telah memenuhi kawanan keluarga besar pers dan mahasiswa-mahasiswa dari berbagai fakultas di Unimus. Mereka tak hanya ingin melakukan aksi demo saja ketika sampai di Banda Aceh, tapi mereka juga akan mempersembahkan karya anak bangsa melalui drama singkat dengan tema “Stop Korupsi, Pelaku Korupsi adalah Jahannam” telah terpahat rapi dalam latihan yang berlangsung di ruang kuliah Fakultas Pertanian.
***
               
Tinggal menunggu jawaban dari ungkapan kata yang Raisya perbincangkan kemarin dengan Ummi Magfirah, Raisya telah membujuk Umminya agar ia mendapat izin untuk berangkat ke Banda. Berbagai cara jitu telah Raisya tempuh, dengan memberikan alasan-alasan apapun, bahwa ia akan baik-baik saja. Ummi Magfirah tahu keinginan Raisya, tetapi entah mengapa ia begitu berat hati melepas Raisya begitu saja. Apalagi Raisya sedang sakit, kepalanya sering pusing, setiap selesai mandi rambutnya rontok begitu banyak sekali, Raisya tampak kurus.
Ummi Magfirah selalu melarang Raisya agar tak lagi mengkonsumsi mie instan berlebihan. Raisya pernah mengeluh bahwa ia sering tak bisa tidur karena kelelahan. Tetapi Ummi Magfirah tahu penyebabnya bukan karena kelelahan saja, tetapi karena penyakit yang di deranya. Namun, Ummi Magfirah tak tahu persis apa penyakit itu. Karena tidak pernah memeriksakan kesehatan Raisya ke dokter.
               
Raisya sering memegang rambutnya amat kuat, saat Ummi menanyakan ia kenapa, Raisya menjawab kepalanya sakit sekali, seperti tertusuk-tusuk, seperti gempa, dan kadang-kadang Raisya sering pingsan di kamarnya. Bukan karena ketiduran.
Ummi Magfirah takut jika terjadi sesuatu pada Raisya. Raisya tinggal satu-satunya harta berharga yang ia miliki. Raisya hanya bisa berdoa dan berdoa agar Ummi Magfirah mau memberikan izinnya. Raisya tidak mau melewatkan kesempatan berharga ini, jika tidak sekarang, kapan lagi ia akan pergi.
“Ya Allah jika Engkau telah memutuskan sesuatu akan terjadi padaku maka cukup dengan mengucap Kun Fayakun sesuatu itu pasti kan terjadi, tapi aku telah berusaha membujuk Ummi untuk memberikan izinnya. Tidakkah Engkau mau, membantuku untuk mencairkan kegelisahannya. Aku berharap Ummi mau memberikan izin dan memberikan doa untukku agar aku nantinya baik-baik saja di sana. Kabulkan doa hamba Ya Allah” Raisya curhat dengan Allah lalu menutup shalatnya dengan berucap amin.
***
               
Senja telah mengabut awan menjadi kelam tak bertepian, malampun kan datang seperti biasanya. Meninggalkan sebuah harapan yang mungkin teruntuk harapan belaka. Tinggal menunggu jarum jam tepat  berada pada pukul 20.00 wib. Maka rombongan pendemo akan berkumpul di Kampus dan berangkat pada pukul 22.00 wib. Namun, keputusan dari Ummi tetap sama. Ummi tampak tak lagi memperhatikan apa yang dibicarakan Raisya. Saat ini Ummi lebih memilih untuk bunkam tanpa membenarkan sebuah kata-kata pasti untuk keponakannya. Ummi ingin menjaga Raisya seperti anak kandungnya sendiri, ia tak ingin hal buruk apapun menimpa Raisya. Tindakan Ummi Magfirah melarang Raisya pergi adalah bentuk keresahan yang amat dalam yang di alaminya, tapi terlepas dari itu semua angan-angan Raisya telah berada di depan mata. Haruskah Raisya mengabaikannya begitu saja. Lalu mendengarkan kata-kata Umminya. Semua tergantung pada Ummi Magfirah, jika memang Ummi tak mengizinkannya berarti Raisya tak akan pergi. Raisya tidak mau menjadi pembangkang karena ia benar-benar mencintai Ummi seperti Ibunya sendiri.
              
 Petang itu Marwah sahabat Raisya menanyakan perihal tersebut pada Raisya melalui via telfon. Raisya belum punya jawabannya. Raisya sepertinya tak akan ikut bersama mereka.
“Gimana Raisya nanti malam kita udah mau berangkat, Ummimu sudah memberikan izin kan?” Ucap Marwah menyelidiki.
“Aku belum bisa bilang apa-apa Marwah, Ummi ku sangat teguh pada pendiriannya. Beliau tetap tak memberiku izin, aku harus bagaimana?” Tambah Raisya sedih.
“Aku juga tidak mau memaksamu untuk pergi, jika kau mencintai Ummi mu sepenuh hati, lebih baik kau menuruti semua perkataannya, ya sudah aku beres-beres dulu karena sebentar lagi aku mau ke kampus” Ujar Marwah tanpa banyak berkata-kata lagi.
“Terimakasih Marwah, assalamualaikum” Raisya mengakhiri pembicaraan mereka dengan menghapus pipinya yang di basahi air mata.
“walaikum salam” balas Marwah pelan.
               
Waktu itu Raisya sangat sedih sekali, ia terus menangis dan terus melihat jarum jam berputar dengan sendirinya. Raisya masih berharap bisa pergi. Ummi Magfirah tak lantas mendekatinya, ia hanya melihat tingkah Raisya dari luar kamarnya. Ummi tak tega melihat Raisya yang terus saja menangis dan menangis. Entah mengapa hati Ummi Magifarah tak mencair ketika melihat gadis malang itu terus menyibak nasibnya yang kacau. Raisya patah semangat.
               
Demi Allah, alangkah sengsaranya dunia. Jika di sisi yang satu baik, maka sisi yang lain  mengisyaratkan buruk, dan jika keadaan berubah membaik, maka kematianpun datang.
“Ya Allah apa yang harus aku lakukan saat ini, aku tak mau menyakiti Ummi ku tapi aku juga tak sanggup menerima kenyataan ini, sekarang aku hanya ingin Engkau menabahkan hatiku” Raisya membathin dalam urai air mata kedukaan.
              
 Tiadalah seseorang yang menegakkan hatinya pada kepatuhan nurani, ia akan selalu berpindah akan keadaan yang menyudutkan. Dan manusia-manusia sabar itu di sayang oleh Allah. Selaksa kesedihan itu menyurutkan pasangnya ketidak restuan Ummi Magfirah pada Raisya.
Tiba-tiba Ummi Magfirah masuk ke kamar Raisya sambil memegang mukenah yang cukup indah, mukenah itu kelihatannya seperti sudah ketinggalan zaman sekali, tapi warna dan desainnya yang rapi membuat mukenah tampak layak dikenakan dimanapun. Ummi Magfirah menyudahi tangisan Raisya dengan sebuah senyuman.
“Raisya  ini untukmu, pergilah. Ummi mengizinkanmu” Ucap Ummi Magfirah sambil tersenyum.
“Ummi serius?” Tak percaya.
“Iya sayang…”
“Pakailah mukenah ini setelah kau sampai di Baiturrahman, pasti kau akan terlihat cantik, mukenah ini adalah peninggalan ibumu” kata ummi sambil memperlihatkan mukenah itu.
“Pasti Ummi, Raisya sayang Ummi………!”
“Ummi juga sangat menyayangi Raisya”
Raisya menghamburkan dirinya langsung memeluk Ummi. Kini hanya rasa gelisah yang menengadah di hati Ummi Magfirah. Tetapi perempuan itu tak mau menutup keputusannya lagi untuk tak memberikan izin pada Raisya. Raisya begitu tak menyangka, suasana berubah menjadi haru. Pelukan membuat sebuah perpisahan. Meski tak lama. Pelukan itu terasa erat sekali untuk di lepas.
              
 Ketika bahagia datang serasa kalbu ini teramat sejuk, aman, dan damai. Semua rasa melebur menjadi satu kerinduan yang tak pernah padam.  Raisya buru-buru memperbaharui dirinya dan langsung berangkat menuju kampusnya. Ia lebih memilih untuk membuat kejutan pada teman-temannya.
“Terima kasih Ummi, Raisya pamit” Ucap Raisya sambil menyalim tangan Umminya.
Ummi tak menjawab, ia mulai di hantui rasa gelisah.
Angkutan Umum di malam itu, membawa Raisya sampai ke tempat yang ia tuju. Bus  yang menuju Banda Aceh lantas akan bersiap-siap gerak untuk memberangkatkan pasukannya. Mereka semua sudah lengkap, tiba-tiba dari di depan pintu gerbang kampus terdengar suara lirih memanggil.
“Tunggu…………………Raisya ikut!” Raisya melambai-lambaikan tangannya.
               
Sontak seluruh sahabatnya seperti tak percaya melihat kedatangan Raisya muncul dari kegelapan yang menyeruak kegembiraan. Takdir kini telah menjawab teka-tekinya yang penuh tanda tanya. Biarkanlah dunia ini membawa insan yang berkeinginan baik melanjutkan ibadahnya, walau tak di tanah suci, setidaknya Baiturrahman menjadi tempat pertamanya untuk melakukan ibadah shalat dan zikir pada Allah. Walaupun ajang ini bukan ajang untuknya bermain-main atau berlama-lama disana. Namun, setidaknya Raisya punya waktu untuk menyempatkan dirinya berada di Darussalam sebelum mentari menghampiri Seramoe Mekkah.
              
 Salam buat malam yang panjang, hidupmu kini seperti di lautan lepas. Tak menemukan tepian dan halaman yang indah. Menit-menitmu terasa begitu lama, tetapi menyenangkan. Tak ada yang menduga bahwa hal ini kan menjadi realita yang berwarna. Entah apa pintanya nanti, ia hanya sesosok gadis yang tak mengharapkan sesuatu yang muluk-muluk terjadi.
             
  Seluruh anggota pendemo bersorak menyanyikan lagu kebangsaan mereka. Tak ada yang mengerti untuk apa tujuan ini dilakukan, hanya secanang harapan. Untuk pemuda kedepan menjadi manusia yang bersih dan jujur.
              
 Tibalah Raisya dan para rombongan pendemo di ibu kota provinsi tercinta. Shubuh itu terasa menyejukkan hati. Tepat jam 5 pagi hamparan Kota Darussalam menjadi haluan pertama untuk  singgah sebentar, pilihan mereka adalah Mesjid yang indah. Mereka beribadah di Baiturrahman.
“Ya Allah ternyata sungguh indah rumahmu ini, walau dalam pandangan yang gelap. Tempat ini begitu bercahaya dan membuat hatiku damai, terimakasih Ya Allah Engkau telah membawaku pada keinginanku” Ucap Raisya dalam senandung kata-kata syukur didalam hatinya.
             
  Kehidupan jiwa adalah sebuah konsep untuk iman dan makna. Bukan hanya sekedar makan dan minum. Bukan hanya sekedar untuk ilmu dan dunia. Bukan untuk tidur dan berfoya-foya. Kehidupan jiwa adalah untuk memupuk iman dan taqwa pada Allah SWT.
              
 Mukenah yang indah itu menjadi satu-satunya selimut hangat untuk Raisya melakukan kewajibannya. Tak ada yang mengetahui seberapa bahagianya seorang Raisya. Walaupun tanpa Maryam di sampingnya. Cukuplah Allah menjadi sahabat hatinya.
“Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menentukan sebuah kebahagiaan, yang menentukan datangnya ajal manusia. Aku ingin berucap syukur tak henti-hentinya pada-Mu ya Allah. Ya Allah aku ingin Engkau mempertemukanku dengan Maryam adikku walau dalam bayang-bayang semu, saat ini dihadapanku. Aku ingin bersamanya. Aku rindu padanya” Ujar Raisya dalam doanya kepada Allah.
***
               
Adakah yang tahu bahwa usianya tak lama lagi, adakah yang mengerti bahwa keadaanya sakit yang teramat sakit. Adakah yang tahu bahwa Raisya akan pergi. Teman-temannya tak peka, tubuhnya gemetar dan dingin. Namun, ia sempat memberitahukan pada Ummi Magfirah melalui sms bahwa Raisya sangat sayang pada Ummi. Itu adalah kalimat terakhirnya pada Ummi. Raisya menghembuskan nafas terakhirnya di dalam Mesjid Baiturrahman. Raisya membuat semua seakan tak percaya. Kematianpun sangat cepat merenggut nyawanya. Mungkin saat itu Allah telah mengabulkan doa Raisya untuk bertemu dengan Maryam adiknya. Keadaan saat itu tak terkendali saat teman-teman Raisya tahu ia telah meninggal. Sungguh kepergiannya begitu mulia, setelah menunaikan shalat shubuh maka berakhirlah usianya.

Salam buat Ummi Magfirah
Aku sayang Ummi,
Ummi tak boleh Menangis
Doaku, Ummi akan selalu baik-baik saja,
Cukuplah Allah yang menjadi sahabat Ummi tuk selamanya
Dialah kebahagian yang sejati…..
Surat Raisya buat Ummi Magfirah tercinta

Penulis adalah Sekretaris di LPM SA (Lembaga Pers Mahasiswa Suara Almuslim)

0 komentar:

Post a Comment

Blogger sejati pasti meninggalkan jejak untuk dikunjungi.
Berkomentarlah dengan bijak karena kepribadian terpancar dari kata-kata;